12/03/12

"Rabu Puitis" : Layu Sebelum Berkembang


Beni Satryo
Suluh Pamuji sedang membaca puisi pada sebuah kesempatan langka di kampus Filsafat

BPMF – Kerinduan akan ruang berekspresi di Fakultas Filsafat semakin memuncak. Selama ini, ruang tersebut seolah menguap seiring kesibukan akademis para mahasiswanya. Menjawab kerinduan tersebut, Amir seorang mahasiswa Filsafat 2007, menggagas sebuah acara rutin bernama “Rabu Puitis”. Acara ini mengajak para penyair lokal Fakultas Filsafat untuk membacakan karya-karyanya di depan publik. “Rabu Puitis” pada acara perdananya bulan November kemarin mengalami kegagalan akibat faktor cuaca. Acara yang sedianya dibuka pada pukul 12.00 WIB ini gagal total akibat hujan deras yang mengguyur. Hal ini dikarenakan acara tersebut diadakan di pelataran kantin Fakultas Filsafat.


Setelah kegagalan tersebut, "Rabu Puitis" menjadi terbengkalai. Selain persoalan teknis, persoalan klasik dalam merealisasikan sebuah wacana adalah tidak adanya eksekutor yang mampu serabutan di lapangan. Seiring waktu berlalu, ide brilian tersebut hanya menjadi sebuah wacana. Kerinduan hanya tinggal kerinduan dan kegelisahan. Seperti dalam sebuah sajak pembuka acara “Rabu Puitis” berikut ini :  

kita duduk, tak pernah beranjak
waktu berlalu, kita tak pernah mengelak
menurutmu kenyataan tak akan pernah tampak
menurutku perjuangan adalah kenyataan yang akan menyeruak

ah, bacakan saja satu sajak!

memang sudah sehebat apa kata-katamu?
rembulan mana yang berhasil kau masukan ke dalam sakumu
tunjukan, tunjukan satu saja padaku
bagaimana akhir dari permainan menunggu dan bertemu?

ah, bacakan saja satu sajak buatanmu!

untuk apa kita duduk di restoran tanpa menulis puisi
rasa asing yang kita beli bersama secangkir kopi tadi
tidak cukupkah untuk membuatmu merasa sepi, sendiri
ketika pengkhianatan dan kesetiaan telah kehilangan garis tepi

ah, bacakan saja satu sajak lagi!

sampai dimana tadi kita bicara?
apa sudah kau catat lebih dari sekedar kata-kata?
tunjuk, tunjuk bagian mana yang harus ku ulangi?
sebelum kita mulai bicara kembali

ah, bacakan saja! lagi! lagi dan lagi!
bagaimana kalau kita kumpulkan saja penyair-penyair disini?

bagaimana menurutmu?
(iya! iya kamu! memang siapa lagi, yang sedang membaca pesan romantik ini!)

 Ku tunggu kau hari Rabu. Bawa serta sajak-sajakmu, bacakan untuk mereka yang lelah menunggu kabar dari restoran itu. Jangan ragu-ragu mengabarkan kepada mereka, tentang rembulan yang telah kita lahap dalam setiap jeda-jeda kata dan peristiwa. Jangan malu-malu membacakan sajak dan puisimu, katakan kepada mereka "Ini puisiku, mana puisimu!" Teriak, teriak saja seperti bayi-bayi di Sarajevo dan Palestina "Lebih baik aku mati, daripada menyimpan sajak dan puisi dalam hati!". (B.S)

1 komentar: