12/03/12

Melacak Konsep Pahlawan Di Jaman Modern


Beni Satryo

Indonesia adalah negara yang banyak sekali memiliki pahlawan, tercatat sampai tahun 2009 ada 147 pahlawan yang terdaftar sebagai pahlawan nasional[1]. Jumlah pahlawan yang banyak itu, disebabkan oleh proses kemerdekaan yang berdarah-darah dan memakan banyak korban. Sosok pahlawan yang muncul ketika itu adalah mereka yang berani berjuang demi Indonesia, mempertaruhkan segalanya untuk kemerdekaan negara ini. Jaman itu, pahlawan adalah sosok yang kental dengan jiwa nasionalisme dan patriotisme. Saat ini, Indonesia sudah merdeka 66 tahun lamanya, bahkan sudah berada di jaman serba modern. Konsep kepahlawanan pun pasti berubah, seiring perubahan pola masyarakat modern yang cenderung individualis-pragmatis.


Pahlawan Dalam Konteks Jaman Pahit

Istilah pahlawan dalam literatur barat adalah “hero” yang merujuk pada sosok manusia setengah dewa. Hero adalah sosok dalam mitologi kuno yang diberi karunia luar biasa berupa kekuatan dan keberanian, dan selalu membela kebenaran dan kaum yang lemah. Sedangkan menurut KBBI, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Secara etimologis, pahlawan berasal dari bahasa Sanskerta, yakni phala yang berarti buah atau hasil. Sederhananya, pahlawan adalah seseorang yang menghasilkan atau membuahkan sesuatu.

Menilik kembali sejarah kemerdekaan Indonesia, sosok seperti hero dan pahlawan menurut KBBI banyak sekali ditemukan. Pengorbanan mereka dalam membela kebenaran, yakni kemerdekaan bagi bangsanya dan membebaskan bangsa ini dari tangan penjajah, menjadikan mereka lekat dengan sosok pahlawan. Masyarakat saat itu pun memang dalam kondisi tertindas dan lemah secara nyata. Apa yang mereka cita-citakan seragam, yakni merdeka, yang benar adalah yang hidup layak tanpa penjajahan, sehingga orang-orang yang menonjol, yang berani memperjuangkan yang benar, entah dengan mengorbankan pikiran, tenaga, darah dan uang, layak mereka sebut sebagai pahlawan.

Penganugerahan gelar pahlawan nasional pertama kali dilakukan pada tahun 1959. Orang pertama yang terdaftar adalah Abdul Muis[2]. Kita mungkin hanya mengenal beliau melalui novelnya yang berjudul Salah Asuhan (1928), namun beliau ternyata pernah memimpin demonstrasi besar-besaran pada tahun 1922 di Yogyakarta, dan akhirnya ditangkap oleh Belanda sebelum dibuang ke Garut. Penganugerahan gelar kepahlawanan ini mempertimbangkan berbagai macam aspek yang linier, yakni konsensus (kesepakatan bersama), kontekstualitas (jaman dan perjuangannya), dan diferentiatif (apa yang membedakan pahlawan-bukan pahlawan).

Pahlawan nasional yang terdaftar saat ini hidup di masa-masa sulit Indonesia untuk meraih kemerdekaan, jaman yang teramat pahit untuk dilalui. Mereka yang menjadi pahlawan adalah mereka yang memiliki jiwa patriot-nasionalis, rela sengsara untuk negaranya. Pahlawan yang muncul saat itu sangat erat kaitannya dengan konteks penjajahan. Mungkinkah muncul pahlawan baru, ketika konteks penjajahan tersebut sudah hilang di jaman modern ini?

Pahlawan Dalam Masyarakat Modern : Mungkinkah?

Indonesia sudah merdeka selama 66 tahun, bahkan telah memasuki era modern. Masyarakat modern yang cenderung individualistis-pragmatis ini tentu merubah konsep kepahlawanan yang sudah ada. Misalnya kasus sontek massal yang terjadi di Surabaya yang lalu. Seorang ibu yang membela kebenaran, bahwa menyontek itu adalah sesuatu yang tidak benar, malah menjadi sasaran caci maki warga. Pola masyarakat seperti ini bisa jadi mengikis sikap-sikap ke-pahlawan-an yang tumbuh, dan bahkan bisa membuat definisi atas sikap ke-pahlawan-an yang baru. Seorang ibu di Surabaya tadi yang terang-terang membela kebenaran, bisa jadi kalah simpatik oleh Batman, Spiderman, Superman yang membela kebenaran dalam layar televisi. Jangankan penganugerahan, penghargaan dari masyarakat atas sikap ibu tadi saja tidak ada. 

Sikap masyarakat modern ini membunuh “pahlawan-pahlawan” yang mungkin muncul. Istilah yang muncul untuk merespon pahlawan itu sendiri, seperti sok pahlawan dan pahlawan kesiangan adalah akibat dari hilangnya konsep pahlawan dalam masyarakat modern. Terlebih saat ini, masyarakat modern cenderung melihat popularitas sebagai sesuatu yang harus dikejar. Sehingga orang-orang yang menunjukan sikap ke-pahlawan-an dalam bentuk perbuatan, hanya dianggap mencari popularitas semata. Kasus balita bernama Yue-yue di China baru-baru ini adalah contoh riil bagaimana respon masyarakat modern terhadap orang yang bisa disebut sebagai pahlawan. 

Ada yang berubah dalam melihat konsep ke-pahlawan-an di jaman modern ini. Dahulu ketika Indonesia berjuang meraih kemerdekaan, mereka yang berjiwa patriot dan nasionalis bisa disebut sebagai pahlawan. Namun, saat ini ketika masih ada orang-orang yang memiliki jiwa patriot dan nasionalis hanya berhenti pada istilah aktivis. Pun ketika ada beberapa orang yang akhirnya mati karena keyakinannya atas apa yang benar, dianggap mati konyol. Perubahan-perubahan ini mungkin memunculkan konsep ke-pahlawan-an baru, menggantikan konsep yang lama. Konsep ke-pahlawan-an memang harus melihat kontekstualitas jaman. Jaman serba praktis dan canggih ini tentu memiliki konsep ke-pahlawan-an baru yang bisa diterima oleh masyarakat modern itu sendiri. 

Melihat gejala-gejala modernitas, yang berpengaruh terhadap perubahan pola dan perilaku masyarakat modern, pahlawan-pahlawan yang muncul tidak melulu harus berjuang dan berdarah-darah. Tidak melulu harus mendedikasikan jiwa raganya untuk kepentingan orang banyak dan negara. Pahlawan-pahlawan masa kini, sangat mungkin muncul dari televisi, bahkan jejaring sosial. Pemain sinetron, atlet sepakbola, musisi, pemenang kontes kecantikan, kontes bakat, bisa dianggap sebagai pahlawan sesuai dengan perubahan pola pikir masyarakat dalam memaknai definisi pahlawan. Pahlawan di jaman modern tidak lagi harus memiliki jiwa patriot, rela berkorban, dan berani membela yang benar, namun lebih kepada kepopuleran dan berpengaruh terhadap dinamika kehidupan masyarakat modern.  Seperti itukah konsep pahlawan di jaman modern?


[1] http://eritristiyanto.wordpress.com/2010/02/11/daftar-nama-pahlawan-nasional-republik-indonesia/
[2] http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2010/11/10/brk,20101110-290887,id.html

*tulisan ini merupakan pemantik atas tulisan dengan judul yang sama Melacak Konsep Pahlawan Di Jaman Modern

Tidak ada komentar:

Posting Komentar