Beni Satryo
Indonesia adalah negara yang
banyak sekali memiliki pahlawan, tercatat sampai tahun 2009 ada 147 pahlawan
yang terdaftar sebagai pahlawan nasional[1].
Jumlah pahlawan yang banyak itu, disebabkan oleh proses kemerdekaan yang
berdarah-darah dan memakan banyak korban. Sosok pahlawan yang muncul ketika itu
adalah mereka yang berani berjuang demi Indonesia, mempertaruhkan segalanya
untuk kemerdekaan negara ini. Jaman itu, pahlawan adalah sosok yang kental
dengan jiwa nasionalisme dan patriotisme. Saat ini, Indonesia sudah merdeka 66
tahun lamanya, bahkan sudah berada di jaman serba modern. Konsep kepahlawanan
pun pasti berubah, seiring perubahan pola masyarakat modern yang cenderung
individualis-pragmatis.
Pahlawan Dalam Konteks Jaman Pahit
Istilah pahlawan dalam literatur
barat adalah “hero” yang merujuk pada sosok manusia setengah dewa. Hero adalah
sosok dalam mitologi kuno yang diberi karunia luar biasa berupa kekuatan dan
keberanian, dan selalu membela kebenaran dan kaum yang lemah. Sedangkan menurut
KBBI, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya
dalam membela kebenaran. Secara etimologis, pahlawan berasal dari bahasa Sanskerta,
yakni phala yang berarti buah atau
hasil. Sederhananya, pahlawan adalah seseorang yang menghasilkan atau
membuahkan sesuatu.
Menilik kembali sejarah
kemerdekaan Indonesia, sosok seperti hero dan pahlawan menurut KBBI banyak
sekali ditemukan. Pengorbanan mereka dalam membela kebenaran, yakni kemerdekaan
bagi bangsanya dan membebaskan bangsa ini dari tangan penjajah, menjadikan
mereka lekat dengan sosok pahlawan. Masyarakat saat itu pun memang dalam
kondisi tertindas dan lemah secara nyata. Apa yang mereka cita-citakan seragam,
yakni merdeka, yang benar adalah yang hidup layak tanpa penjajahan, sehingga
orang-orang yang menonjol, yang berani memperjuangkan yang benar, entah dengan
mengorbankan pikiran, tenaga, darah dan uang, layak mereka sebut sebagai pahlawan.
Penganugerahan gelar pahlawan
nasional pertama kali dilakukan pada tahun 1959. Orang pertama yang terdaftar
adalah Abdul Muis[2].
Kita mungkin hanya mengenal beliau melalui novelnya yang berjudul Salah Asuhan
(1928), namun beliau ternyata pernah memimpin demonstrasi besar-besaran pada
tahun 1922 di Yogyakarta, dan akhirnya ditangkap oleh Belanda sebelum dibuang
ke Garut. Penganugerahan gelar kepahlawanan ini mempertimbangkan berbagai macam
aspek yang linier, yakni konsensus (kesepakatan bersama), kontekstualitas
(jaman dan perjuangannya), dan diferentiatif (apa yang membedakan
pahlawan-bukan pahlawan).
Pahlawan nasional yang terdaftar
saat ini hidup di masa-masa sulit Indonesia untuk meraih kemerdekaan, jaman
yang teramat pahit untuk dilalui. Mereka yang menjadi pahlawan adalah mereka
yang memiliki jiwa patriot-nasionalis, rela sengsara untuk negaranya. Pahlawan
yang muncul saat itu sangat erat kaitannya dengan konteks penjajahan.
Mungkinkah muncul pahlawan baru, ketika konteks penjajahan tersebut sudah hilang
di jaman modern ini?
Pahlawan Dalam Masyarakat Modern : Mungkinkah?
Indonesia sudah merdeka selama 66
tahun, bahkan telah memasuki era modern. Masyarakat modern yang cenderung
individualistis-pragmatis ini tentu merubah konsep kepahlawanan yang sudah ada.
Misalnya kasus sontek massal yang terjadi di Surabaya yang lalu. Seorang ibu
yang membela kebenaran, bahwa menyontek itu adalah sesuatu yang tidak benar,
malah menjadi sasaran caci maki warga. Pola masyarakat seperti ini bisa jadi
mengikis sikap-sikap ke-pahlawan-an yang tumbuh, dan bahkan bisa membuat
definisi atas sikap ke-pahlawan-an yang baru. Seorang ibu di Surabaya tadi yang
terang-terang membela kebenaran, bisa jadi kalah simpatik oleh Batman,
Spiderman, Superman yang membela kebenaran dalam layar televisi. Jangankan
penganugerahan, penghargaan dari masyarakat atas sikap ibu tadi saja tidak ada.
Sikap masyarakat modern ini
membunuh “pahlawan-pahlawan” yang mungkin muncul. Istilah yang muncul untuk
merespon pahlawan itu sendiri, seperti sok
pahlawan dan pahlawan kesiangan adalah akibat dari hilangnya konsep pahlawan
dalam masyarakat modern. Terlebih saat ini, masyarakat modern cenderung melihat
popularitas sebagai sesuatu yang harus dikejar. Sehingga orang-orang yang
menunjukan sikap ke-pahlawan-an dalam bentuk perbuatan, hanya dianggap mencari
popularitas semata. Kasus balita bernama Yue-yue di China baru-baru ini adalah
contoh riil bagaimana respon masyarakat modern terhadap orang yang bisa disebut
sebagai pahlawan.
Ada yang berubah dalam melihat
konsep ke-pahlawan-an di jaman modern ini. Dahulu ketika Indonesia berjuang
meraih kemerdekaan, mereka yang berjiwa patriot dan nasionalis bisa disebut
sebagai pahlawan. Namun, saat ini ketika masih ada orang-orang yang memiliki
jiwa patriot dan nasionalis hanya berhenti pada istilah aktivis. Pun ketika ada
beberapa orang yang akhirnya mati karena keyakinannya atas apa yang benar,
dianggap mati konyol. Perubahan-perubahan ini mungkin memunculkan konsep
ke-pahlawan-an baru, menggantikan konsep yang lama. Konsep ke-pahlawan-an
memang harus melihat kontekstualitas jaman. Jaman serba praktis dan canggih ini
tentu memiliki konsep ke-pahlawan-an baru yang bisa diterima oleh masyarakat
modern itu sendiri.
Melihat gejala-gejala modernitas,
yang berpengaruh terhadap perubahan pola dan perilaku masyarakat modern, pahlawan-pahlawan
yang muncul tidak melulu harus berjuang dan berdarah-darah. Tidak melulu harus
mendedikasikan jiwa raganya untuk kepentingan orang banyak dan negara.
Pahlawan-pahlawan masa kini, sangat mungkin muncul dari televisi, bahkan
jejaring sosial. Pemain sinetron, atlet sepakbola, musisi, pemenang kontes
kecantikan, kontes bakat, bisa dianggap sebagai pahlawan sesuai dengan
perubahan pola pikir masyarakat dalam memaknai definisi pahlawan. Pahlawan di
jaman modern tidak lagi harus memiliki jiwa patriot, rela berkorban, dan berani
membela yang benar, namun lebih kepada kepopuleran dan berpengaruh terhadap
dinamika kehidupan masyarakat modern. Seperti
itukah konsep pahlawan di jaman modern?
[1] http://eritristiyanto.wordpress.com/2010/02/11/daftar-nama-pahlawan-nasional-republik-indonesia/
[2] http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2010/11/10/brk,20101110-290887,id.html
*tulisan ini merupakan pemantik atas tulisan dengan judul yang sama Melacak Konsep Pahlawan Di Jaman Modern
Tidak ada komentar:
Posting Komentar