Beni Satryo
Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII memerintahkan penggantian kalender
Julian. Tradisi populer menceritakan, beberapa orang Eropa tidak mengetahui
perubahan tersebut dan terus merayakan Tahun Baru pada tanggal 1 April dari
kalender Julian sebelumnya. Kisah ini merupakan salah satu versi mengenai awal
mula diperingatinya tanggal 1 April sebagai fool’s
day atau lebih dikenal dengan istilah April
Mop.
Apapun sejarahnya, April Mop
adalah suatu hari dimana orang-orang diperbolehkan untuk bertingkah sekonyol mungkin.
Salah satunya yang paling sering dilakukan adalah berbuat iseng kepada orang
lain. Media massa pun tak mau ketinggalan untuk meramaikan perayaan ini. Pada
tahun 1957, chanel televisi BBC menurunkan berita hoax tentang pohon
Spagetti di Swiss.
Di Indonesia sendiri, April Mop juga
sudah mendarah daging. Mulai dari masyarakat hingga
negara. Media-media di Indonesia pun juga tak ingin ketinggalan. Negara
menjahili masyarakat, media membodohi masyarakat, masyarakat bertingkah konyol,
negara mengecoh media, masyarakat mengecoh negara, media membohongi masyarakat,
dan hebatnya perayaan tersebut tak hanya berlangsung sehari saja, namun soedah sedjak dahoeloe kala.
Kita, warga negara Indonesia hidup dalam absurd society. Aturan dan solusi
yang berlaku
atau dilakukan pun absurd. Misal, menyalakan lampu motor di
siang hari, meski hanya berkeliaran di dalam kota. Membangun bandul beton
seberat tiga kilogram untuk menyapu kepala penumpang liar di
atap KRL.
Larangan mengenakan rok mini di DPR, larangan membuka warung makan di siang
hari ketika bulan Ramadhan, ngemplang
duit dibawah Rp
25 juta bukan sebagai tindakan korupsi, klub sepakbola didanai
oleh APBD, undang-undang tentang pencemaran nama baik dan perbuatan tidak
menyenangkan, atau standar orang miskin dan pengangguran.
Meminjam ucapan Joker –musuh Batman yang
terkenal itu–, why so serious? Kita
sebagai sasaran aturan-aturan absurd itu tak perlu menanggapinya dengan serius. Karena, inti dari April Mop salah satunya
adalah, pada hari itu semua hal yang serius dilarang. Di Indonesia satu April berlaku selamanya, bila ingin serius, pindah ke
negara lain saja seperti B.J. Habibie.
Seperti yang ditulis Ariel Heryanto, Ketua
Kajian Asia Tenggara di Australian National University, Indonesia tidak pernah kekurangan orang cerdas. Namun, ketika beranjak
dewasa, bergelar sarjana, dan masuk pasar kerja, mereka tidak menemukan
lingkungan dan lembaga yang mendukung kecintaan mereka kepada ilmu. Bakat dan
kecerdasan mereka hanya bisa tersalur di dunia industri, politik partai, atau
acara televisi. Pilihan lainnya, menekuni ilmu
pengetahuan di luar negeri.
Memang, tidak ada pilihan bagi orang-orang yang ingin serius di negara ini.
Mereka “lari” ke negara orang yang hanya memperingati April Mop sekali saja selama setahun, daripada
menetap di negara ini yang memperingati April
Mop setiap hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar