12/04/12

Satu April Untuk Selamanya


Beni Satryo

Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII memerintahkan penggantian kalender Julian. Tradisi populer menceritakan, beberapa orang Eropa tidak mengetahui perubahan tersebut dan terus merayakan Tahun Baru pada tanggal 1 April dari kalender Julian sebelumnya. Kisah ini merupakan salah satu versi mengenai awal mula diperingatinya tanggal 1 April sebagai fool’s day atau lebih dikenal dengan istilah April Mop.
Apapun sejarahnya, April Mop adalah suatu hari dimana orang-orang diperbolehkan untuk bertingkah sekonyol mungkin. Salah satunya yang paling sering dilakukan adalah berbuat iseng kepada orang lain. Media massa pun tak mau ketinggalan untuk meramaikan perayaan ini. Pada tahun 1957, chanel televisi BBC menurunkan berita hoax tentang pohon Spagetti di Swiss.


Di Indonesia sendiri, April Mop juga sudah mendarah daging. Mulai dari masyarakat hingga negara. Media-media di Indonesia pun juga tak ingin ketinggalan. Negara menjahili masyarakat, media membodohi masyarakat, masyarakat bertingkah konyol, negara mengecoh media, masyarakat mengecoh negara, media membohongi masyarakat, dan hebatnya perayaan tersebut tak hanya berlangsung sehari saja, namun soedah sedjak dahoeloe kala.

Kita, warga negara Indonesia hidup dalam absurd society. Aturan dan solusi yang berlaku atau dilakukan pun absurd. Misal, menyalakan lampu motor di siang hari, meski hanya berkeliaran di dalam kota. Membangun bandul beton seberat tiga kilogram untuk menyapu kepala penumpang liar di atap KRL. Larangan mengenakan rok mini di DPR, larangan membuka warung makan di siang hari ketika bulan Ramadhan, ngemplang duit dibawah Rp 25 juta bukan sebagai tindakan korupsi, klub sepakbola didanai oleh APBD, undang-undang tentang pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan, atau standar orang miskin dan pengangguran.
Meminjam ucapan Joker –musuh Batman yang terkenal itu, why so serious? Kita sebagai sasaran aturan-aturan absurd itu tak perlu menanggapinya dengan serius. Karena, inti dari April Mop salah satunya adalah, pada hari itu semua hal yang serius dilarang. Di Indonesia satu April berlaku selamanya, bila ingin serius, pindah ke negara lain saja seperti B.J. Habibie.

Seperti yang ditulis Ariel Heryanto, Ketua Kajian Asia Tenggara di Australian National University, Indonesia tidak pernah kekurangan orang cerdas. Namun, ketika beranjak dewasa, bergelar sarjana, dan masuk pasar kerja, mereka tidak menemukan lingkungan dan lembaga yang mendukung kecintaan mereka kepada ilmu. Bakat dan kecerdasan mereka hanya bisa tersalur di dunia industri, politik partai, atau acara televisi. Pilihan lainnya, menekuni ilmu pengetahuan di luar negeri.

Memang, tidak ada pilihan bagi orang-orang yang ingin serius di negara ini. Mereka “lari” ke negara orang yang hanya memperingati April Mop sekali saja selama setahun, daripada menetap di negara ini yang memperingati April Mop setiap hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar