Beni Satryo
BPMF – Kerinduan akan ruang berekspresi di Fakultas Filsafat
semakin memuncak. Selama ini, ruang tersebut seolah menguap seiring kesibukan
akademis para mahasiswanya. Menjawab kerinduan tersebut, Amir seorang mahasiswa
Filsafat 2007, menggagas sebuah acara rutin bernama “Rabu Puitis”. Acara ini
mengajak para penyair lokal Fakultas Filsafat untuk membacakan karya-karyanya
di depan publik. “Rabu Puitis” pada acara perdananya bulan November kemarin
mengalami kegagalan akibat faktor cuaca. Acara yang sedianya dibuka pada pukul
12.00 WIB ini gagal total akibat hujan deras yang mengguyur. Hal ini
dikarenakan acara tersebut diadakan di pelataran kantin Fakultas Filsafat.
Setelah kegagalan tersebut,
"Rabu Puitis" menjadi terbengkalai. Selain persoalan teknis, persoalan klasik
dalam merealisasikan sebuah wacana adalah tidak adanya eksekutor yang mampu
serabutan di lapangan. Seiring waktu berlalu, ide brilian tersebut hanya
menjadi sebuah wacana. Kerinduan hanya tinggal kerinduan dan kegelisahan.
Seperti dalam sebuah sajak pembuka acara “Rabu Puitis” berikut ini :
kita duduk, tak pernah beranjak
waktu berlalu, kita tak pernah mengelak
menurutmu kenyataan tak akan pernah tampak
menurutku perjuangan adalah kenyataan yang akan menyeruak
ah, bacakan saja satu sajak!
memang sudah sehebat apa kata-katamu?
rembulan mana yang berhasil kau masukan ke dalam sakumu
tunjukan, tunjukan satu saja padaku
bagaimana akhir dari permainan menunggu dan bertemu?
ah, bacakan saja satu sajak buatanmu!
untuk apa kita duduk di restoran tanpa menulis puisi
rasa asing yang kita beli bersama secangkir kopi tadi
tidak cukupkah untuk membuatmu merasa sepi, sendiri
ketika pengkhianatan dan kesetiaan telah kehilangan garis tepi
ah, bacakan saja satu sajak lagi!
sampai dimana tadi kita bicara?
apa sudah kau catat lebih dari sekedar kata-kata?
tunjuk, tunjuk bagian mana yang harus ku ulangi?
sebelum kita mulai bicara kembali
ah, bacakan saja! lagi! lagi dan lagi!
bagaimana kalau kita kumpulkan saja penyair-penyair disini?
bagaimana menurutmu?
(iya! iya kamu! memang siapa lagi, yang sedang membaca pesan romantik
ini!)
Ku tunggu kau hari Rabu. Bawa serta sajak-sajakmu, bacakan untuk
mereka yang lelah menunggu kabar dari restoran itu. Jangan ragu-ragu
mengabarkan kepada mereka, tentang rembulan yang telah kita lahap dalam setiap
jeda-jeda kata dan peristiwa. Jangan malu-malu membacakan sajak dan puisimu,
katakan kepada mereka "Ini puisiku, mana puisimu!" Teriak, teriak
saja seperti bayi-bayi di Sarajevo dan Palestina "Lebih baik aku mati,
daripada menyimpan sajak dan puisi dalam hati!". (B.S)

sukses dan tetaplah berpijar, Pijar!
BalasHapus