10/10/12

Jaminan Pengakuan Internasional Sang Dekan



BPMF - Dr. Mukhtasar Syamsuddin kembali menjabat sebagai dekan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada untuk periode 2012-2016, setelah menyisihkan dua pesaingnya; Dr. Rizal Mustansyir dan Prof. Joko Siswanto dalam pemilihan dekan Rabu (29/8).

Pada putaran pertama, Dr. Mukhtasar Syamsuddin meraup 19 suara. Sementara  Prof. Joko Siswanto meraih 14 suara dan Dr. Rizal Mustansyir memperoleh  11 suara. Dengan  hasil tersebut, Dr. Mukhtasar Syamsuddin dan Prof. Joko Siswanto berhak mengikuti pemilihan tahap kedua.

Pemilihan pun harus berlanjut pada putaran ketiga karena putaran kedua berakhir dengan hasil imbang yakni 22:22. Akhirnya, Dr. Mukhtasar Syamsuddin berhasil unggul dari Prof. Joko Siswanto pada putaran tiga dengan selisih 2 suara yaitu 23:21.

Bagaimana visi dan misi selama kepemimpinan keduanya? Dr. Mukhtasar Syamsuddin menerima Amir Fawwaz, Eva Hudaeva, dan fotografer Fajar Prasetyo dari Pijar untuk wawancara pada rabu (12/9). Berikut kutipannya:

Apa visi dan misi Anda?
Saya ingin menjadikan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada sebagai institusi rujukan bagi penyelenggaraan pendidikan filsafat di Indonesia yang berstandar internasional.  Artinya, kita hendak menghadirkan peran Fakultas Filsafat ke dalam tiga wilayah yaitu global, nasional dan lokal. Namun, untuk menuju lembaga filsafat yang diakui secara internasioanal kita perlu memperkuat dulu basis lokalitas dengan menunjukkan peran filsafat dalam mengembangkan filsafat nusantara. Sejauh ini kita sudah meletakkan basis lokalitas itu dengan mendirikan Laboratorium Filsafat Nusantara (Lafinus)

Banyak pihak mempertanyakan kinerja dan kontribusi Lafinus. Bagaimana menurut Anda?
Pendirian Lafinus merupakan upaya peletakan dasar untuk menjalankan visi pengembangan filsafat nusantara. Oleh karena itu, adanya kritik-kritik bahwa Lafinus tidak dikelola secara profesional, misalnya, itu wajar dan kami terima. Nah, kini saatnya Lafinus dikelola lebih baik dan lebih meningkatkan perannya sebagai pusat kajian filsafat nusantara guna mengangkat keunggulan Fakultas Filsafat.

Adakah program praksis lain?
Kerja lain yaitu memperluas jaringan kerjasama dengan institusi filsafat secara nasional. Antara lain, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya untuk bersama-sama mengembangkan studi filsafat di Indonesia. Bahkan, mereka sangat mendukung dengan visi lokalitas yang kita usung. Jadi, kita menyadari tidak bisa mengembangkan visi itu tanpa merangkul lembaga-lembaga filsafat lain” 

Terkait pengembangan mutu akademik bagi mahasiswa?
Pada periode kemarin kita telah mentranformasi beberapa mata kuliah pilihan menjadi mata kuliah wajib untuk program pascasarjana. Sementara, untuk program strata satu kita mencoba memperkenalkan mata kuliah baru yang berbasis pada kearifan lokal. Seperti Filsafat Wayang.  Di dalam kelas, para dosen menyampaikan kepada mahasiswa posisi filsafat sebagai alat atau pisau analisa untuk menemukan dan mengelaborasi filsafat nusantara. Jadi, mahasiswa tidak cukup memahami teks-teks karya filsuf-filsuf besar, tetapi bagaimana pemahaman itu bisa digunakan untuk menggali, menemukan dan merumuskan filsafat nusantara.

Ada opini bahwa hasil penelitian filsafat sama dengan Antropogi. Bagaimana Anda menanggapinya?
Pendapat semacam itu wajar karena penelitian yang dilakukan dosen-dosen Fakultas Filsafat terdahulu bersifat historis-deskriptif. Tetapi, itu tetap sesuai dengan metodologi atau pendekatan penelitian yang mereka lakukan. Targetnya adalah untuk menemukan mutiara kearifan lokal yang terpendam di bumi nusantara. Seharusnya karya para pendahulu kita itu bisa kita analisa lebih jauh dan dalam lagi.

Apa beda kajian lokalitas di filsafat dengan lembaga lain?
Jelas berbeda. Antropologi mengkaji kearifan lokal dengan menggunakan pendekatan kultural. Sosiologi, membangun kearifan lokal berdasarkan ilmu kemasyarakatan. Sementara,  Fakultas Filsafat menjadikan pemikiran filsafat sebagai alat untuk membaca dan menganalisa kearifan lokal. Jadi ilmu filsafat akan konsisten digunakan sebagai instrumen analisa dalam membedah kearifan lokal.

Sejauh mana berkontribusi Fakultas Filsafat untuk Indonesia kekinian?
Kita harus beranjak dari pemahaman tentang Indonesia. Indonesia bukan benda mati, dia dinamis, mengarah pada suatu bentuk, yang sampai sekarang belum menunjukkan wujud tegas. Meski sudah diklaim bahwa kita meng-indonesia tidak lepas dari tiga hal yaitu tradisi yang sudah tumbuh dan berkembang, agama yang kita yakini, dan negara yang dibangun oleh para founding  fathers. Tapi semua itu belum usai. Karenanya, material untuk membangun Indonesia sangat membutuhkan kerja fakultas filsafat

Pendapat Anda soal keseragaman pembangunan di UGM?
Kata seragam mungkin kurang tepat. Yang benar adalah standarisasi yang berupa norma-norma demi menjaga aspek kesejarahan UGM sebagai universitas kerakyatan, universitas nasional, dan universitas global.  Pembangunan gedung juga harus menunjukkan kekhasan masing-masing fakultas. Jika kita lihat rancangan gedung Fakultas Filsafat maka kita akan menemukan ciri-ciri filosofi. 

Bagaimana rencana pembangunan gedung Fakultas Filsafat?
Sayang sekali, rencana pembangunan gedung itu mengalami penundaan dua kali. Saya lihat penangguhan tersebut lebih karena persoalan administrasi, bukan karena perlakuan diskriminatif. Kita terlambat mengajukan proposal sebab merancang bangunan yang mencerminkan kekhasan Fakultas Filsafat butuh waktu. Sementara ketika masuk periode perubahan anggaran, syaratnya pembangunan gedung harus selesai dalam waktu empat bulan. Padahal gedung yang akan dibangun itu memiliki lima lantai. Ini tidak logis. Karena itu kita menunggu waktu yang tepat.

Kapan?
Saya tidak terburu-buru. Membangun gedung bukan sekedar mengangkat citra fisik. Tapi ada idealisme yang terpendam. Secara internal, pengurus sepakat akan mengajukan lagi tahun 2014. Jika tahun 2014 tidak terlaksana juga maka kami akan berusaha membangun gedung dengan dana sendiri.

Anda sudah punya nama-nama pengurus baru?
Kalau nama mungkin terlalu dini. Pasalnya, masa jabatan wakil dekan periode 2008-2012 berakhir bulan Desember.  Tapi saya punya beberapa kriteria: pertama, mereka mau bekerja sepenuh waktu, kedua, punya komitmen untuk membangun fakultas sepenuh hati. Ketiga, memiliki daya akseleratif yang dapat diandalkan dalam melaksanakan program yang sudah dicanangkan. Karena saya lihat laju perkembangan universitas berjalan cepat. Fakultas-Fakultas sudah banyak yang berusaha mengejar ketertinggalan. Saya kira, Fakultas Filsafat tidak mau menjadi bagian yang tertinggal.

Apa hambatan yang Anda temui selama empat tahun silam dan bagaimana ke depannya?
Yang paling mendasar adalah persoalan persepsi. Kita butuh penyamaan persepsi mengenai visi empat tahun ke depan dari semua sivitas fakultas, baik itu dosen, mahasiswa, dan unsur-unsur pegawai non-akademik. Dengan persamaan persepsi itu, saya kira kita bisa melangkah bersama untuk mewujudkan Fakultas Filsafat sebagai institusi rujukan bagi para penyelenggara pendidikan filsafat dengan tetap mempertahankan standar internasional. Semua pihak mempunyai kontribusi yang berbeda tapi tujuan yang  sama.

Saat ini ada sekitar 102 mahasiswa angkatan 2012. Apa pesan Anda untuk mereka?
Saya harap, di tahun pertama, mereka dapat mencari jawaban atas segala macam dugaan, prasangka, dan rasa penasaran tentang apa yang sebenarnya dipelajari di Fakultas Filsafat, mau jadi apa setelah dari Fakultas Filsafat.  Hal itu bisa ditanyakan kepada dosen atau teman-teman lain yang sudah lebih dulu menginjakkan kaki di Fakultas Filsafat. Dengan jawaban-jawaban itu, saya harapkan mahasiswa baru tetap dapat optimis dalam menempuh pendidikan di Filsafat.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar