BPMF - Dr. Mukhtasar
Syamsuddin kembali menjabat sebagai dekan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah
Mada untuk periode 2012-2016, setelah menyisihkan dua pesaingnya; Dr.
Rizal Mustansyir dan Prof. Joko Siswanto dalam pemilihan dekan Rabu (29/8).
Pada putaran
pertama, Dr. Mukhtasar Syamsuddin meraup 19 suara. Sementara Prof. Joko Siswanto meraih 14 suara dan Dr.
Rizal Mustansyir memperoleh 11 suara. Dengan hasil tersebut, Dr. Mukhtasar Syamsuddin dan Prof. Joko Siswanto berhak mengikuti pemilihan
tahap kedua.
Pemilihan pun
harus berlanjut pada putaran ketiga karena putaran kedua berakhir dengan hasil
imbang yakni 22:22. Akhirnya, Dr. Mukhtasar Syamsuddin berhasil unggul dari
Prof. Joko Siswanto pada putaran tiga dengan selisih 2 suara yaitu 23:21.
Bagaimana visi
dan misi selama kepemimpinan keduanya? Dr. Mukhtasar Syamsuddin menerima Amir Fawwaz, Eva Hudaeva, dan fotografer Fajar
Prasetyo dari Pijar untuk
wawancara pada rabu (12/9). Berikut kutipannya:
Apa
visi dan misi Anda?
Saya ingin menjadikan
Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada sebagai institusi rujukan bagi penyelenggaraan pendidikan filsafat di Indonesia yang berstandar
internasional. Artinya, kita
hendak menghadirkan peran Fakultas Filsafat ke dalam tiga wilayah yaitu global,
nasional dan lokal. Namun, untuk menuju lembaga filsafat yang
diakui secara internasioanal kita perlu memperkuat dulu basis lokalitas dengan
menunjukkan peran filsafat dalam mengembangkan
filsafat nusantara. Sejauh ini kita sudah
meletakkan basis lokalitas itu dengan mendirikan
Laboratorium Filsafat Nusantara (Lafinus).
Banyak pihak mempertanyakan kinerja dan kontribusi Lafinus. Bagaimana
menurut Anda?
Pendirian Lafinus merupakan upaya peletakan dasar untuk menjalankan visi pengembangan filsafat nusantara. Oleh karena itu, adanya kritik-kritik bahwa Lafinus
tidak dikelola secara profesional, misalnya,
itu wajar dan kami terima. Nah, kini saatnya Lafinus dikelola lebih baik dan lebih
meningkatkan perannya sebagai pusat kajian filsafat nusantara guna
mengangkat keunggulan Fakultas Filsafat.
Adakah program praksis lain?
Kerja lain yaitu memperluas jaringan kerjasama
dengan institusi filsafat secara nasional. Antara lain, Fakultas Filsafat Universitas Katolik
Widya Mandala Surabaya untuk bersama-sama
mengembangkan studi filsafat di Indonesia. Bahkan, mereka sangat mendukung dengan visi lokalitas yang kita usung. Jadi, kita menyadari tidak
bisa mengembangkan visi itu tanpa merangkul
lembaga-lembaga filsafat lain”
Terkait pengembangan mutu akademik bagi mahasiswa?
Pada periode kemarin kita telah mentranformasi beberapa mata kuliah pilihan menjadi
mata kuliah wajib untuk program pascasarjana. Sementara, untuk
program strata satu kita mencoba memperkenalkan mata
kuliah baru yang berbasis pada kearifan lokal. Seperti Filsafat
Wayang. Di dalam
kelas, para dosen menyampaikan kepada mahasiswa posisi filsafat sebagai alat atau pisau analisa untuk menemukan dan mengelaborasi filsafat nusantara. Jadi, mahasiswa tidak cukup
memahami teks-teks karya filsuf-filsuf besar, tetapi
bagaimana pemahaman itu bisa digunakan untuk menggali, menemukan dan merumuskan filsafat
nusantara.
Ada opini bahwa
hasil penelitian filsafat sama
dengan Antropogi. Bagaimana Anda
menanggapinya?
Pendapat semacam itu
wajar karena penelitian yang dilakukan dosen-dosen Fakultas Filsafat terdahulu
bersifat historis-deskriptif. Tetapi, itu tetap sesuai dengan
metodologi atau pendekatan penelitian yang mereka lakukan. Targetnya adalah untuk menemukan mutiara kearifan lokal yang terpendam di bumi nusantara. Seharusnya karya
para pendahulu kita itu bisa kita analisa lebih
jauh dan dalam lagi.
Apa beda kajian lokalitas di filsafat dengan lembaga lain?
Jelas berbeda. Antropologi mengkaji kearifan lokal dengan menggunakan
pendekatan kultural. Sosiologi, membangun
kearifan lokal berdasarkan ilmu kemasyarakatan. Sementara, Fakultas Filsafat menjadikan pemikiran filsafat
sebagai alat untuk membaca dan menganalisa kearifan lokal. Jadi ilmu filsafat akan konsisten digunakan sebagai
instrumen analisa dalam membedah
kearifan lokal.
Sejauh mana berkontribusi Fakultas Filsafat untuk Indonesia kekinian?
Kita harus beranjak dari pemahaman tentang Indonesia.
Indonesia bukan benda mati, dia dinamis, mengarah pada suatu bentuk, yang
sampai sekarang belum menunjukkan wujud tegas. Meski sudah diklaim bahwa kita meng-indonesia tidak lepas dari tiga hal yaitu
tradisi yang sudah tumbuh dan berkembang, agama yang kita yakini, dan negara yang dibangun oleh para founding fathers. Tapi semua itu
belum usai. Karenanya, material untuk membangun Indonesia sangat membutuhkan kerja fakultas filsafat.
Pendapat Anda soal
keseragaman pembangunan di UGM?
Kata seragam mungkin kurang tepat. Yang benar adalah standarisasi yang berupa norma-norma demi menjaga aspek kesejarahan
UGM sebagai universitas kerakyatan, universitas nasional,
dan universitas global.
Pembangunan gedung juga harus menunjukkan kekhasan masing-masing fakultas. Jika kita lihat rancangan gedung Fakultas Filsafat maka kita akan menemukan ciri-ciri filosofi.
Bagaimana rencana pembangunan gedung Fakultas Filsafat?
Sayang sekali, rencana pembangunan
gedung itu
mengalami penundaan dua kali. Saya lihat penangguhan tersebut lebih karena persoalan administrasi, bukan karena
perlakuan diskriminatif. Kita terlambat
mengajukan proposal sebab merancang bangunan yang mencerminkan kekhasan Fakultas
Filsafat butuh waktu. Sementara ketika masuk periode perubahan anggaran,
syaratnya pembangunan gedung harus selesai dalam waktu empat bulan. Padahal
gedung yang akan dibangun itu memiliki lima lantai. Ini tidak logis. Karena itu
kita menunggu waktu yang tepat.
Kapan?
Saya tidak terburu-buru. Membangun gedung bukan sekedar mengangkat citra fisik. Tapi ada idealisme yang
terpendam. Secara internal, pengurus sepakat akan mengajukan
lagi tahun 2014. Jika tahun 2014 tidak terlaksana
juga maka kami akan berusaha membangun gedung dengan dana sendiri.
Anda sudah punya nama-nama pengurus baru?
Kalau nama mungkin terlalu dini. Pasalnya, masa jabatan wakil dekan periode 2008-2012 berakhir bulan Desember. Tapi saya punya beberapa kriteria: pertama,
mereka
mau bekerja sepenuh waktu, kedua, punya komitmen untuk
membangun fakultas sepenuh hati. Ketiga, memiliki daya
akseleratif yang dapat diandalkan dalam
melaksanakan program yang sudah dicanangkan. Karena
saya lihat laju perkembangan universitas berjalan cepat.
Fakultas-Fakultas sudah banyak yang
berusaha mengejar ketertinggalan. Saya kira, Fakultas
Filsafat tidak mau menjadi bagian yang tertinggal.
Apa hambatan yang Anda temui selama empat tahun silam dan bagaimana ke
depannya?
Yang paling mendasar adalah persoalan
persepsi. Kita butuh penyamaan persepsi mengenai
visi empat tahun ke depan dari semua sivitas
fakultas, baik itu dosen, mahasiswa, dan unsur-unsur
pegawai non-akademik. Dengan persamaan persepsi itu, saya kira kita bisa
melangkah bersama untuk mewujudkan Fakultas Filsafat sebagai institusi rujukan bagi para penyelenggara pendidikan filsafat
dengan tetap mempertahankan standar
internasional. Semua pihak mempunyai kontribusi yang berbeda tapi tujuan yang
sama.
Saat ini ada sekitar 102 mahasiswa angkatan 2012. Apa pesan Anda untuk
mereka?
Saya harap, di tahun pertama, mereka
dapat mencari jawaban atas segala macam dugaan, prasangka, dan rasa penasaran tentang
apa yang sebenarnya dipelajari di Fakultas
Filsafat, mau jadi apa setelah dari Fakultas Filsafat. Hal itu bisa
ditanyakan kepada dosen atau teman-teman lain yang
sudah lebih dulu menginjakkan kaki di Fakultas Filsafat. Dengan jawaban-jawaban
itu, saya harapkan mahasiswa baru tetap dapat
optimis dalam menempuh pendidikan di Filsafat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar