Canggih Gumanky Farunik
Cuk Ananta Wijaya (20 Februari 1961 - 04 Desember 2012)
Ada sesuatu
yang unik di mata kuliah Bahasa Inggris Filsafat. Berbeda dengan beberapa dosen
di Fakultas Filsafat, seorang dosen pengampu mata kuliah Bahasa Inggris
Filsafat, terkenal sangat nyentrik. Sebelum kuliah dimulai, beliau sudah datang
lebih dahulu, menunggu mahasiswa datang sambil menghisap rokok yang beraroma
khas, diiringi lagu Westlife. Saya lupa lagu yang mana, tetapi saya merasa
tidak biasa melihat pemandangan tersebut. ketika merasa sudah tepat waktu
kuliah akan dimulai, beliau mematikan rokoknya dan memperkenalkan diri, namanya
Cuk Ananta Wijaya. Sebuah nama yang unik. Beliau pernah menyebutkan arti
namanya, yaitu ‘kemenangan abadi’, meskipun saya tidak mengetahui arti dari
kata ‘Cuk’, dan beliau juga tidak memberikan tanda-tanda bahwa nama itu memang
diartikan.
Setelah lama mengikuti kuliah beliau, saya menyadari bahwa beliau
termasuk dosen yang biasa saja dan memiliki kesulitan dalam mengungkapkan
pemikiran, kata-kata, bahkan humor sekalipun. Banyak mahasiswa yang mengatakan
bahwa pak Cuk punya selera humor yang aneh dan garing, alias tidak lucu. Saya juga pernah mendapati bahwa pak Cuk
juga memiliki emosi yang meledak-ledak. Suatu ketika, teman saya pernah
kedapatan sedang mengobrol ketika beliau memberikan kuliah. Beliau menghampiri
teman saya dengan marah, dan ‘mencolek’ teman saya itu dengan setumpuk kertas
berisi materi kuliah. Memang tidak sakit, tetapi teman saya sangat malu karena kejadian
tersebut. Teman saya tidak terima atas perlakuan tersebut dan ingin meminta
klarifikasi setelah kuliah selesai, tetapi pak Cuk malah tertawa dan meminta
maaf. Teman saya yang tadinya emosi, malah berbalik heran melihat reaksi
beliau. Memang begitulah pak Cuk.
Menjelang
semester akhir, sekitar semester tujuh, saya bertemu lagi dengan pak Cuk di
kuliah Metafisika Ilmu, karena beliau merupakan salah satu dosen bidang keilmuan
dan teknologi, dan kebetulan fokus studi saya adalah filsafat ilmu dan
teknologi. Tidak ada yang berubah dengan cara mengajar beliau, tetapi di kuliah
Metafisika Ilmu, pak Cuk lebih terasa santai dalam mengajar. Karena yang
mengikuti mata kuliah tersebut tidak banyak, hanya empat orang, termasuk teman
saya yang pernah ‘dicolek’ dahulu. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah lupa
kejadian tersebut. Pak Cuk pernah bercerita bahwa dirinya pernah mendapat
bimbingan skripsi dari pak Abbas Hamami Mintaredja. Beliau mengatakan bahwa
jika dibimbing pak Abbas, pasti cepat, sekitar dua bulan. Saya tadinya tidak
memahami mengapa bisa begitu, setelah saya mengalami sendiri betapa cepatnya
saya menyelesaikan skripsi, tepat sekitar dua bulan. Tidak hanya itu, pak Abbas
sendiri banyak membantu melancarkan pendaftaran kuliah pascasarjana saya.
Setelah saya
dapat melanjutkan kuliah di program master pascasarjana filsafat, saya bertemu
lagi dengan pak Cuk. Ketika itu, saya mendapatkan informasi tentang
Laboratorium Filsafat Nusantara (Lafinus) yang sedang membutuhkan beberapa
staff, dari teman saya Najib. Posisi pak Cuk sendiri di Lafinus sebagai kepala
laboratorium. Sejak saya di Lafinus sebagai staff divisi kerjasama dan
jaringan, pak Cuk mulai mengenal saya dan menjadi cukup akrab dengan saya dan
beberapa staff lain di Lafinus, termasuk Najib di divisi publikasi dan mas Reno
di divisi riset dan penelitian. Pak Cuk pernah mengatakan bahwa di Lafinus
memang tidak mendapatkan honor tetap, tetapi beliau menjamin makan siang dengan
membelikan rice cooker dan membelikan
lauk makan siang. Dan lagi-lagi saya harus mengatakan, memang begitulah pak
Cuk.
Dalam
perkembangan selanjutnya, Lafinus mendapatkan program hibah dari pemerintah
dengan nama PHKI dan pak Cuk menjadi PIC atau setara dengan jabatan penanggung
jawab aktivitas untuk tim Fakultas Filsafat. Sebelumnya saya pernah mengatakan
bahwa beliau dosen yang sangat biasa, dan jujur saja, agak sulit mengandalkan
beliau dalam memberikan saran mengenai langkah-langkah strategis atau
perencanaan yang jelas ketika menjalankan suatu kegiatan. Manusia, pada
dasarnya, memang diberikan kekurangan dan kelebihan secara bersamaan. Meskipun bukan
karakter perencana yang dapat diandalkan, tetapi pak Cuk terkenal sangat baik
kepada semua orang yang dikenalnya. Seolah-olah, semua orang dapat memaklumi
kekurangannya dalam memimpin, dengan menerima sifat baiknya. Sejauh pengetahuan
saya, tidak pernah ada yang membicarakan kekurangan pak Cuk.
Sampai saat
ini, saya masih tidak menyangka bahwa beliau telah meninggalkan dunia ini
selamanya. Beliau meninggal karena komplikasi jantung dengan beberapa masalah
di beberapa organ dalam, disaat beliau sedang melakukan pengabdian masyarakat
di luar kota. Saya tidak mengetahui seberapa besar orang akan mengenang, atau bahkan
menangisi kepergiannya, tetapi bagi saya sendiri, pak Cuk adalah seseorang yang
banyak memberikan inspirasi dan pengaruh yang besar sekali, baik dalam
kehidupan sehari-hari, ataupun dalam pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.
Selamat Jalan, pak CAW...terima kasih untuk segalanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar