14/12/12

Selamat Jalan, Pak!

Canggih Gumanky Farunik

Cuk Ananta Wijaya (20 Februari 1961 - 04 Desember 2012)

Ada sesuatu yang unik di mata kuliah Bahasa Inggris Filsafat. Berbeda dengan beberapa dosen di Fakultas Filsafat, seorang dosen pengampu mata kuliah Bahasa Inggris Filsafat, terkenal sangat nyentrik. Sebelum kuliah dimulai, beliau sudah datang lebih dahulu, menunggu mahasiswa datang sambil menghisap rokok yang beraroma khas, diiringi lagu Westlife. Saya lupa lagu yang mana, tetapi saya merasa tidak biasa melihat pemandangan tersebut. ketika merasa sudah tepat waktu kuliah akan dimulai, beliau mematikan rokoknya dan memperkenalkan diri, namanya Cuk Ananta Wijaya. Sebuah nama yang unik. Beliau pernah menyebutkan arti namanya, yaitu ‘kemenangan abadi’, meskipun saya tidak mengetahui arti dari kata ‘Cuk’, dan beliau juga tidak memberikan tanda-tanda bahwa nama itu memang diartikan. 


Setelah lama mengikuti kuliah beliau, saya menyadari bahwa beliau termasuk dosen yang biasa saja dan memiliki kesulitan dalam mengungkapkan pemikiran, kata-kata, bahkan humor sekalipun. Banyak mahasiswa yang mengatakan bahwa pak Cuk punya selera humor yang aneh dan garing, alias tidak lucu. Saya juga pernah mendapati bahwa pak Cuk juga memiliki emosi yang meledak-ledak. Suatu ketika, teman saya pernah kedapatan sedang mengobrol ketika beliau memberikan kuliah. Beliau menghampiri teman saya dengan marah, dan ‘mencolek’ teman saya itu dengan setumpuk kertas berisi materi kuliah. Memang tidak sakit, tetapi teman saya sangat malu karena kejadian tersebut. Teman saya tidak terima atas perlakuan tersebut dan ingin meminta klarifikasi setelah kuliah selesai, tetapi pak Cuk malah tertawa dan meminta maaf. Teman saya yang tadinya emosi, malah berbalik heran melihat reaksi beliau. Memang begitulah pak Cuk.

Menjelang semester akhir, sekitar semester tujuh, saya bertemu lagi dengan pak Cuk di kuliah Metafisika Ilmu, karena beliau merupakan salah satu dosen bidang keilmuan dan teknologi, dan kebetulan fokus studi saya adalah filsafat ilmu dan teknologi. Tidak ada yang berubah dengan cara mengajar beliau, tetapi di kuliah Metafisika Ilmu, pak Cuk lebih terasa santai dalam mengajar. Karena yang mengikuti mata kuliah tersebut tidak banyak, hanya empat orang, termasuk teman saya yang pernah ‘dicolek’ dahulu. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah lupa kejadian tersebut. Pak Cuk pernah bercerita bahwa dirinya pernah mendapat bimbingan skripsi dari pak Abbas Hamami Mintaredja. Beliau mengatakan bahwa jika dibimbing pak Abbas, pasti cepat, sekitar dua bulan. Saya tadinya tidak memahami mengapa bisa begitu, setelah saya mengalami sendiri betapa cepatnya saya menyelesaikan skripsi, tepat sekitar dua bulan. Tidak hanya itu, pak Abbas sendiri banyak membantu melancarkan pendaftaran kuliah pascasarjana saya. 
Setelah saya dapat melanjutkan kuliah di program master pascasarjana filsafat, saya bertemu lagi dengan pak Cuk. Ketika itu, saya mendapatkan informasi tentang Laboratorium Filsafat Nusantara (Lafinus) yang sedang membutuhkan beberapa staff, dari teman saya Najib. Posisi pak Cuk sendiri di Lafinus sebagai kepala laboratorium. Sejak saya di Lafinus sebagai staff divisi kerjasama dan jaringan, pak Cuk mulai mengenal saya dan menjadi cukup akrab dengan saya dan beberapa staff lain di Lafinus, termasuk Najib di divisi publikasi dan mas Reno di divisi riset dan penelitian. Pak Cuk pernah mengatakan bahwa di Lafinus memang tidak mendapatkan honor tetap, tetapi beliau menjamin makan siang dengan membelikan rice cooker dan membelikan lauk makan siang. Dan lagi-lagi saya harus mengatakan, memang begitulah pak Cuk.

Dalam perkembangan selanjutnya, Lafinus mendapatkan program hibah dari pemerintah dengan nama PHKI dan pak Cuk menjadi PIC atau setara dengan jabatan penanggung jawab aktivitas untuk tim Fakultas Filsafat. Sebelumnya saya pernah mengatakan bahwa beliau dosen yang sangat biasa, dan jujur saja, agak sulit mengandalkan beliau dalam memberikan saran mengenai langkah-langkah strategis atau perencanaan yang jelas ketika menjalankan suatu kegiatan. Manusia, pada dasarnya, memang diberikan kekurangan dan kelebihan secara bersamaan. Meskipun bukan karakter perencana yang dapat diandalkan, tetapi pak Cuk terkenal sangat baik kepada semua orang yang dikenalnya. Seolah-olah, semua orang dapat memaklumi kekurangannya dalam memimpin, dengan menerima sifat baiknya. Sejauh pengetahuan saya, tidak pernah ada yang membicarakan kekurangan pak Cuk.

Sampai saat ini, saya masih tidak menyangka bahwa beliau telah meninggalkan dunia ini selamanya. Beliau meninggal karena komplikasi jantung dengan beberapa masalah di beberapa organ dalam, disaat beliau sedang melakukan pengabdian masyarakat di luar kota. Saya tidak mengetahui seberapa besar orang akan mengenang, atau bahkan menangisi kepergiannya, tetapi bagi saya sendiri, pak Cuk adalah seseorang yang banyak memberikan inspirasi dan pengaruh yang besar sekali, baik dalam kehidupan sehari-hari, ataupun dalam pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.

Selamat Jalan, pak CAW...terima kasih untuk segalanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar