Amir Fawwaz
Kehadiran
Indonesianis, sebutan bagi “bule” yang meneliti Indonesia, memiliki pengaruh
dan sumbangan besar terhadap perkembangan khasanah pemikiran dan keilmuan di Indonesia.
Dari tangan mereka lahir karya-karya luar biasa tentang Indonesia. Sebut saja, Imagined Communities-nya Ben Anderson,
buku Abangan, Santri, Pryayi milik
Clifford Geertz dan Nasionalisme dan Revolusi
di Indonesia karya George McTurnan Kahin.
Ketiga
cendikiawan di atas adalah indonesianis dari Universitas Cornell. Kahin, oleh
banyak kalangan, kerap didaulat sebagai pelopor studi keindonesiaan di wilayah
berbahasa inggris-amerika. Kahin adalah pendiri lembaga kajian Indonesia di
universitas Cornell, yaitu Cornell Modern Indonesia Project. Kemudian, dari
lembaga itulah muncul nama-nama Indonesianis lainnya.
Perkembangan
indonesianis mengalami musim subur ketika masa-masa setelah revolusi 1945.
Kondisi itu terus berlangsung hingga menjelang keruntuhan rezim Orde Baru.
Indonesia pada rentang waktu tersebut dipandang sebagai objek seksi untuk
diteliti.
Meski
begitu, telaah tentang indonesia oleh peneliti asing sudah dilakukan jauh
sebelum Indonesia merdeka. Setidaknya tercatat sejak pemerintah kolonial
Belanda mendirikan KILTV (Koninklijk Instituut Vor Taal-, Land-, En Vonkenvunde
van Nederlandsch-Indie).
Awalnya,
motivasi KILTV melulu demi kemajuan dan perkembangan keilmuan. Namun,
belakangan, seiring dengan kian banyak ilmuwan sosial yang terlibat, Belanda memanfaatkan
kehadiran laboratorium tersebut bagi kepentingan penjajahan. Karena itu, dapat
dipahami pendekatan etnologi dan geografi dalam kajian ke-Hindia Belanda-an,
yang lantas lebih dikenal dengan nama indologi, menjadi sangat penting.
Agaknya,
hal itulah yang menjadi alasan Maulana Kautsar, “imam” Jamaah Kawah
Candradimuka Rabu (4/4) ragu, kalau bukan curiga, terhadap peran dan sumbangsih
pemikiran indonesianis—setidaknya, indonesianis masa penjajahan. Hasil
penelitian yang mereka temukan tentang kondisi dan situasi masyarakat dipakai
sebagai bahan perumusan kebijakan kolonialisme.
Adanya
pemanfaatan hasil penelitian oleh pemerintah kolonial diamini oleh para jamaah.
Hanya saja, kesimpulan semacam itu masih menyisakan pertanyaan, yaitu terkait
dengan motivasi para ilmuwan untuk meneliti. Sebagaiamana dikemukakan oleh
Najib Yulianto, Jamaah dari Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Filsafat.
Menurutnya, korelasi antara ilmu pengetahuan dan kepentingan dapat dilihat dari
efek yang dihasilkan. Sementara, para peneliti sekedar melakukan penelitian.
Namun,
pendapat tersebut tidak menepis kecurigaan bahwa seorang ilmuwan, sebagai
subjek peneliti, tidak bisa lepas dari, meminjam istilah Bacon, Idola. Dalam hal ini, secara serampangan
kita bisa menambahkan keempat idola Bacon
dengan “Idola Bos”. Artinya,
keterikatan dengan penguasa.
Lepas
dari perdebatan di atas, kita mesti mengakui, gambaran kita tentang Indonesia
banyak berhutang pada para Indonesianis itu. Namun—dan ini yang perlu
diperjelas dan dipertegas, hal itu justru menyembulkan persoalan mendasar dalam
dunia intelektual di Indonesia. Pendeknya, ketika para cendikiawan asing banyak
menghasilkan karya monumental soal Indonesia, di mana intelektual Indonesia?
Tanpa
tedeng aling-aling, sang imam atau biasa dipanggil Ucok, menjawab pertanyaan
tersebut dengan menyebut sebagai kegagalan lembaga pendidikan.
Dia
mensoroti setidaknya dua hal, seperti tertulis dalam makalah, sebagai sumber
persoalan; pertama, pedekatan
diakronis dunia pendidikan. Pendekatan semacam itu bersifat statis, sempit dan
terlalu melihat ke dalam. Sehingga, saluran penghubung antara pendidikan,
masyarakat dan pemerintah mejadi mampat.
Kedua, manufakturasi
pendidikan. Artinya, fungsi lembaga pendidikan, dari tingkat dasar sampai perguruan
tinggi, beralih sebagai produsen sekrup-sekrup penguat rangka-rangka industri kapitalisme.
Menuntut
intelektual Indonesia, bukan berarti hendak mensejajarkan diri dengan barat atau
menghidupkan kembali ketegangan antara “Barat” dan “Timur”. Karena, bukan saja
distingsi antara barat dan timur, seperti diungkap Suluh Pamuji dalam closing statement-nya, adalah distingsi
yang buruk, tetapi juga bahwa kedirian, sebagaimana dipaparkan Gita, diperoleh
melalui dialektika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar