10/10/12

Ironi Dunia Akademis Indonesia



Amir Fawwaz

Kehadiran Indonesianis, sebutan bagi “bule” yang meneliti Indonesia, memiliki pengaruh dan sumbangan besar terhadap perkembangan khasanah pemikiran dan keilmuan di Indonesia. Dari tangan mereka lahir karya-karya luar biasa tentang Indonesia. Sebut saja, Imagined Communities-nya Ben Anderson, buku Abangan, Santri, Pryayi milik Clifford Geertz dan Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia karya George McTurnan Kahin.


Ketiga cendikiawan di atas adalah indonesianis dari Universitas Cornell. Kahin, oleh banyak kalangan, kerap didaulat sebagai pelopor studi keindonesiaan di wilayah berbahasa inggris-amerika. Kahin adalah pendiri lembaga kajian Indonesia di universitas Cornell, yaitu Cornell Modern Indonesia Project. Kemudian, dari lembaga itulah muncul nama-nama Indonesianis lainnya.

Perkembangan indonesianis mengalami musim subur ketika masa-masa setelah revolusi 1945. Kondisi itu terus berlangsung hingga menjelang keruntuhan rezim Orde Baru. Indonesia pada rentang waktu tersebut dipandang sebagai objek seksi untuk diteliti.

Meski begitu, telaah tentang indonesia oleh peneliti asing sudah dilakukan jauh sebelum Indonesia merdeka. Setidaknya tercatat sejak pemerintah kolonial Belanda mendirikan KILTV (Koninklijk Instituut Vor Taal-, Land-, En Vonkenvunde van Nederlandsch-Indie).

Awalnya, motivasi KILTV melulu demi kemajuan dan perkembangan keilmuan. Namun, belakangan, seiring dengan kian banyak ilmuwan sosial yang terlibat, Belanda memanfaatkan kehadiran laboratorium tersebut bagi kepentingan penjajahan. Karena itu, dapat dipahami pendekatan etnologi dan geografi dalam kajian ke-Hindia Belanda-an, yang lantas lebih dikenal dengan nama indologi, menjadi sangat penting.

Agaknya, hal itulah yang menjadi alasan Maulana Kautsar, “imam” Jamaah Kawah Candradimuka Rabu (4/4) ragu, kalau bukan curiga, terhadap peran dan sumbangsih pemikiran indonesianis—setidaknya, indonesianis masa penjajahan. Hasil penelitian yang mereka temukan tentang kondisi dan situasi masyarakat dipakai sebagai bahan perumusan kebijakan kolonialisme.
Adanya pemanfaatan hasil penelitian oleh pemerintah kolonial diamini oleh para jamaah. Hanya saja, kesimpulan semacam itu masih menyisakan pertanyaan, yaitu terkait dengan motivasi para ilmuwan untuk meneliti. Sebagaiamana dikemukakan oleh Najib Yulianto, Jamaah dari Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Filsafat. Menurutnya, korelasi antara ilmu pengetahuan dan kepentingan dapat dilihat dari efek yang dihasilkan. Sementara, para peneliti sekedar melakukan penelitian.

Namun, pendapat tersebut tidak menepis kecurigaan bahwa seorang ilmuwan, sebagai subjek peneliti, tidak bisa lepas dari, meminjam istilah Bacon, Idola. Dalam hal ini, secara serampangan kita bisa menambahkan keempat idola Bacon dengan “Idola Bos”. Artinya, keterikatan dengan penguasa.

Lepas dari perdebatan di atas, kita mesti mengakui, gambaran kita tentang Indonesia banyak berhutang pada para Indonesianis itu. Namun—dan ini yang perlu diperjelas dan dipertegas, hal itu justru menyembulkan persoalan mendasar dalam dunia intelektual di Indonesia. Pendeknya, ketika para cendikiawan asing banyak menghasilkan karya monumental soal Indonesia, di mana intelektual Indonesia?

Tanpa tedeng aling-aling, sang imam atau biasa dipanggil Ucok, menjawab pertanyaan tersebut dengan menyebut sebagai kegagalan lembaga pendidikan.

Dia mensoroti setidaknya dua hal, seperti tertulis dalam makalah, sebagai sumber persoalan; pertama, pedekatan diakronis dunia pendidikan. Pendekatan semacam itu bersifat statis, sempit dan terlalu melihat ke dalam. Sehingga, saluran penghubung antara pendidikan, masyarakat dan pemerintah mejadi mampat.

Kedua, manufakturasi pendidikan. Artinya, fungsi lembaga pendidikan, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, beralih sebagai produsen sekrup-sekrup penguat rangka-rangka industri kapitalisme.

Menuntut intelektual Indonesia, bukan berarti hendak mensejajarkan diri dengan barat atau menghidupkan kembali ketegangan antara “Barat” dan “Timur”. Karena, bukan saja distingsi antara barat dan timur, seperti diungkap Suluh Pamuji dalam closing statement-nya, adalah distingsi yang buruk, tetapi juga bahwa kedirian, sebagaimana dipaparkan Gita, diperoleh melalui dialektika.

Namun, yang juga perlu dicatat; tahu bahwa para Indonesianis ternyata lebih indonesia ketimbang kita adalah ironi bagi dunia akedemis di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar