Beni Satryo
Filsafat adalah induk
dari segala macam ilmu. Artinya, ilmu yang sudah mapan saat ini adalah
perkembangan dari sebuah filsafat. Ilmu hitung, misalnya, merupakan
perkembangan dari logika sederhana. Filsafat meletakkan sebuah dasar teoritis
untuk dikembangkan ke dalam wilayah yang lebih praktis, supaya ilmu tersebut
berguna bagi kehidupan manusia. Ada sebuah ungkapan yang tepat untuk
menjelaskan hal tersebut, yakni filsafat ibarat seorang marinir di garis
terdepan pertempuran dengan misi menaklukkan sebuah pulau. Ketika pulau
tersebut berhasil takluk, kemudian masuk batalyon infanteri untuk memperkuat
basis di pulau tersebut, dan si marinir penakluk
kembali melanjutkan misi menaklukkan pulau-pulau lain, yang masih diselimuti
kabut keingintahuan.
Analogi diatas adalah
sebuah tradisi yang digunakan untuk menjelaskan (secara sederhana) apa itu
filsafat, ketika kita duduk pertama kali di bangku Fakultas Filsafat. Seperti
sebuah epik, analogi “marinir” tersebut diulang setiap tahun untuk
membangkitkan semangat “kepahlawanan” para mahasiswa-mahasiswa baru. Semangat
“kepahlawanan” ini untuk menumbuhkan sikap kegigihan, rela berkorban, dan
segala macam hal yang melekat erat dengan seorang pejuang. Ya, duduk di bangku
kuliah untuk sengaja belajar filsafat, bahkan bertahun-tahun, adalah sebuah
perjuangan. Tak heran, sepotong lirik yang berbunyi “bunda relakan darah juang kami” dari lagu wajib mahasiswa di seluruh
Indonesia, saat ospek maupun demonstrasi, diciptakan oleh seorang pejuang, yang
(bukan) kebetulan adalah alumni Fakultas Filsafat.
Perjuangan mahasiswa
Filsafat dimulai dari meyakinkan mami dan papi untuk memberi restu kuliah
selama 4 tahun, bahkan mungkin bisa lebih, di Fakultas Filsafat. Setelah itu,
beranjak ke ruang lingkup yang lebih luas, yakni meyakinkan masyarakat untuk
–minimal- mengerti kenapa kita perlu dan memilih belajar filsafat di sebuah
institusi akademik. Di Indonesia, seperti halnya bangsa Timur lain, filsafat
hanya dianggap sebuah cara hidup (way of
life), bukan cara (method)
berpikir untuk menemukan sebuah kebenaran, seperti halnya filsafat yang lahir
di Barat.
Secara etimologis (philos dan sophien), filsafat berarti mencintai kebijaksanaan. Kelahiran
filsafat di Barat ditandai dengan perlawanan terhadap mitos dewa-dewi, dengan
rasio atau akal sebagai titik tolaknya. Sedangkan di Timur, filsafat lahir dari
cara manusia menjalani kehidupannya sehari-hari (wisdom). Tak heran, di Indonesia –sebagai bangsa Timur- filsafat
lebih dikaitkan dengan hal-hal spiritual ketimbang ilmiah. Guru agama,
budayawan, bahkan dukun dan paranormal adalah hal yang sering ditebak
masyarakat umum, ketika dihadapkan pada sebuah pertanyaan tentang arah
pekerjaan mahasiswa filsafat, selain pegawai bank dan PNS tentu saja.
Persoalan lahan
pekerjaan apa yang bisa menyerap lulusan Filsafat, agaknya yang membuat
masyarakat kita, mungkin juga mami dan papi kita, masih heran terhadap manfaat
mahasiswa Filsafat. Tidak perlu naïf untuk mengingkari, setelah lulus kuliah,
kita memang mutlak mencari uang dengan bekerja. Masyarakat masih memandang
lahan pekerjaan para lulusan Filsafat masih terlalu abstrak, seperti halnya
ilmu filsafat itu sendiri. Mereka belum bisa memahami, apa yang bisa dilakukan
oleh lulusan Filsafat dalam berbagai segi kehidupan. Berbeda dengan di Barat,
filsafat memiliki kedudukan yang sangat tinggi, selaras dengan mahasiswa yang
mempelajarinya.
Pertanyaan-pertanyaan
seperti “apa sih itu filsafat?” dan “mau
jadi apa sih belajar filsafat?” adalah contoh-contoh pertanyaan sederhana yang
sering dilemparkan orang-orang awam. Namun, pertanyaan-pertanyaan sederhana
seperti diatas, adalah koentji yang
bisa merubah pandangan orang terhadap filsafat. Kadang, kita sendiri mahasiswa
Filsafat, gagap bahkan kesulitan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana
tadi. Kita kadangkala menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menggunakan
bahasa dewa, bahasa yang tidak mereka mengerti. Alih-alih memberikan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan itu, kita malah bisa dianggap gila. Situasi semacam
ini yang menjadi salah satu dari sekian banyak alasan, mengapa filsafat belum
bisa dipahami, bahkan secara praktis, oleh masyarakat luas.
Posisi filsafat yang
demikian remehnya membuat kita, mahasiswa filsafat, turut diremehkan pula. Lain
hal yang terjadi di Barat, filsafat memiliki peran dan posisi yang disegani di
tengah-tengah masyarakat. Mereka memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada
mahasiswa yang belajar filsafat. Mereka beranggapan, mempelajari filsafat butuh
pengorbanan besar, menuntut kerja pikiran yang sangat berat, dan tidak
sembarang orang mau melakukan hal itu.
Satu hal yang pasti, mereka yang belajar filsafat adalah orang-orang
yang cerdas.
Di Indonesia, dalam
program kesarjanaan, ilmu filsafat masih dianggap inferior ketimbang ilmu-ilmu
lain. Bandingkan dengan ilmu-ilmu semacam ekonomi, hukum, politik, dan
kedokteran. Ilmu-ilmu tersebut sangat laris di dunia kerja. Pakar yang lahir
dari ilmu-ilmu tersebut bahkan mampu berbuat banyak dalam membangun dan
mengembangkan bangsa ini. Hal ini disebabkan karena mereka memiliki kesempatan
yang banyak untuk mengembangkan ilmunya, sekaligus hidup secara layak. Berbeda
hal dengan ilmu –dan lulusan- filsafat, yang hanya memiliki kesempatan kecil
untuk mensejajarkan tradisi pemikirannya dengan penghidupan yang layak. Tak
heran, banyak lulusan filsafat yang hanya mampu memilih salah satu dari dua
pilihan sulit tersebut ; menjaga tradisi pemikirannya atau menjaga hidupnya
supaya tetap layak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar