07/10/12

Diantara Dua Pilihan


Beni Satryo

Filsafat adalah induk dari segala macam ilmu. Artinya, ilmu yang sudah mapan saat ini adalah perkembangan dari sebuah filsafat. Ilmu hitung, misalnya, merupakan perkembangan dari logika sederhana. Filsafat meletakkan sebuah dasar teoritis untuk dikembangkan ke dalam wilayah yang lebih praktis, supaya ilmu tersebut berguna bagi kehidupan manusia. Ada sebuah ungkapan yang tepat untuk menjelaskan hal tersebut, yakni filsafat ibarat seorang marinir di garis terdepan pertempuran dengan misi menaklukkan sebuah pulau. Ketika pulau tersebut berhasil takluk, kemudian masuk batalyon infanteri untuk memperkuat basis di pulau tersebut, dan si  marinir penakluk kembali melanjutkan misi menaklukkan pulau-pulau lain, yang masih diselimuti kabut keingintahuan.


Analogi diatas adalah sebuah tradisi yang digunakan untuk menjelaskan (secara sederhana) apa itu filsafat, ketika kita duduk pertama kali di bangku Fakultas Filsafat. Seperti sebuah epik, analogi “marinir” tersebut diulang setiap tahun untuk membangkitkan semangat “kepahlawanan” para mahasiswa-mahasiswa baru. Semangat “kepahlawanan” ini untuk menumbuhkan sikap kegigihan, rela berkorban, dan segala macam hal yang melekat erat dengan seorang pejuang. Ya, duduk di bangku kuliah untuk sengaja belajar filsafat, bahkan bertahun-tahun, adalah sebuah perjuangan. Tak heran, sepotong lirik yang berbunyi “bunda relakan darah juang kami” dari lagu wajib mahasiswa di seluruh Indonesia, saat ospek maupun demonstrasi, diciptakan oleh seorang pejuang, yang (bukan) kebetulan adalah alumni Fakultas Filsafat. 

Perjuangan mahasiswa Filsafat dimulai dari meyakinkan mami dan papi untuk memberi restu kuliah selama 4 tahun, bahkan mungkin bisa lebih, di Fakultas Filsafat. Setelah itu, beranjak ke ruang lingkup yang lebih luas, yakni meyakinkan masyarakat untuk –minimal- mengerti kenapa kita perlu dan memilih belajar filsafat di sebuah institusi akademik. Di Indonesia, seperti halnya bangsa Timur lain, filsafat hanya dianggap sebuah cara hidup (way of life), bukan cara (method) berpikir untuk menemukan sebuah kebenaran, seperti halnya filsafat yang lahir di Barat. 

Secara etimologis (philos dan sophien), filsafat berarti mencintai kebijaksanaan. Kelahiran filsafat di Barat ditandai dengan perlawanan terhadap mitos dewa-dewi, dengan rasio atau akal sebagai titik tolaknya. Sedangkan di Timur, filsafat lahir dari cara manusia menjalani kehidupannya sehari-hari (wisdom). Tak heran, di Indonesia –sebagai bangsa Timur- filsafat lebih dikaitkan dengan hal-hal spiritual ketimbang ilmiah. Guru agama, budayawan, bahkan dukun dan paranormal adalah hal yang sering ditebak masyarakat umum, ketika dihadapkan pada sebuah pertanyaan tentang arah pekerjaan mahasiswa filsafat, selain pegawai bank dan PNS tentu saja.

Persoalan lahan pekerjaan apa yang bisa menyerap lulusan Filsafat, agaknya yang membuat masyarakat kita, mungkin juga mami dan papi kita, masih heran terhadap manfaat mahasiswa Filsafat. Tidak perlu naïf untuk mengingkari, setelah lulus kuliah, kita memang mutlak mencari uang dengan bekerja. Masyarakat masih memandang lahan pekerjaan para lulusan Filsafat masih terlalu abstrak, seperti halnya ilmu filsafat itu sendiri. Mereka belum bisa memahami, apa yang bisa dilakukan oleh lulusan Filsafat dalam berbagai segi kehidupan. Berbeda dengan di Barat, filsafat memiliki kedudukan yang sangat tinggi, selaras dengan mahasiswa yang mempelajarinya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti “apa sih itu filsafat?” dan “mau jadi apa sih belajar filsafat?” adalah contoh-contoh pertanyaan sederhana yang sering dilemparkan orang-orang awam. Namun, pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti diatas, adalah koentji yang bisa merubah pandangan orang terhadap filsafat. Kadang, kita sendiri mahasiswa Filsafat, gagap bahkan kesulitan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana tadi. Kita kadangkala menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menggunakan bahasa dewa, bahasa yang tidak mereka mengerti. Alih-alih memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, kita malah bisa dianggap gila. Situasi semacam ini yang menjadi salah satu dari sekian banyak alasan, mengapa filsafat belum bisa dipahami, bahkan secara praktis, oleh masyarakat luas.

Posisi filsafat yang demikian remehnya membuat kita, mahasiswa filsafat, turut diremehkan pula. Lain hal yang terjadi di Barat, filsafat memiliki peran dan posisi yang disegani di tengah-tengah masyarakat. Mereka memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada mahasiswa yang belajar filsafat. Mereka beranggapan, mempelajari filsafat butuh pengorbanan besar, menuntut kerja pikiran yang sangat berat, dan tidak sembarang orang mau melakukan hal itu.  Satu hal yang pasti, mereka yang belajar filsafat adalah orang-orang yang cerdas.

Di Indonesia, dalam program kesarjanaan, ilmu filsafat masih dianggap inferior ketimbang ilmu-ilmu lain. Bandingkan dengan ilmu-ilmu semacam ekonomi, hukum, politik, dan kedokteran. Ilmu-ilmu tersebut sangat laris di dunia kerja. Pakar yang lahir dari ilmu-ilmu tersebut bahkan mampu berbuat banyak dalam membangun dan mengembangkan bangsa ini. Hal ini disebabkan karena mereka memiliki kesempatan yang banyak untuk mengembangkan ilmunya, sekaligus hidup secara layak. Berbeda hal dengan ilmu –dan lulusan- filsafat, yang hanya memiliki kesempatan kecil untuk mensejajarkan tradisi pemikirannya dengan penghidupan yang layak. Tak heran, banyak lulusan filsafat yang hanya mampu memilih salah satu dari dua pilihan sulit tersebut ; menjaga tradisi pemikirannya atau menjaga hidupnya supaya tetap layak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar