17/05/12

Teka Teki Silat : Hiburan Pikiran Mahasiswa Filsafat


Beni Satryo

BPMF - Mahasiswa Filsafat adalah mahasiswa yang tidak pernah berhenti untuk berpikir. Mereka dituntut untuk terus memikirkan banyak hal. Mulai dari persoalan ketuhanan, jati diri, moral, alam semesta, masyarakat, hingga stabilitas politik nasional. Tak heran ada beberapa mahasiswa Filsafat yang merasa pilihannya untuk menempuh gelar sarjana di fakultas ini salah sasaran. Namun, bagi mereka yang memang gemar berpikir, fakultas mini ini adalah surga bagi mereka.


Berpikir merupakan aktivitas untuk menemukan atau membongkar satu atau dua hal guna mencapai sebuah kebenaran. Apabila kebenaran tak kunjung ditemukan, pasti ada yang salah dari cara berpikirnya. Namun, ada kalanya kebenaran itu bisa dicapai melalui cara-cara berpikir yang salah dan ngawur, dan tentunya kebenaran yang dicapai adalah kebenaran yang ngawur juga. Hal inilah yang mengilhami munculnya Teka Teki Silat.

Salah satu contoh Teka Teki Silat yang pernah beredar


Teka Teki Silat adalah sebuah hiburan khas mahasiswa Filsafat. Hiburan ini muncul sebagai reaksi atas kemalasan menerapkan metode-metode berpikir dalam menemukan sebuah jawaban. Hiburan ini hanya bermodalkan kertas yang telah digambar kotak-kotak kosong yang membentuk pola tertentu (sebagaimana teka-teki silang pada umumnya). Hal yang menarik adalah jawaban-jawaban yang diminta oleh kotak-kotak kosong tersebut adalah jawaban-jawaban plesetan. Misalnya, pertanyaan mendatar 6 kotak adalah daun apa yang berlubang pada bagian tengahnya, maka jawaban yang sesuai adalah daunat.

Kehadiran Teka Teki Silat ini mampu memberikan sebuah ruang untuk menertawakan diri sendiri. Mahasiswa Filsafat yang selalu diajarkan untuk berpikir secara logis, tidak dituntut untuk mengamalkan ajaran-ajaran tersebut. Mereka hanya dituntut untuk berpikir liar,bebas, dan tak logis dalam menjawab teka teki itu. Meskipun liar, bebas dan tak logis tapi mereka masih melakukan aktivitas berpikir untuk menemukan jawaban yang liar, bebas dan tak logis pula. Hal inilah yang membuat mereka terhibur tanpa mengistirahatkan pikiran mereka.

Teka teki seharga Rp.500,- ini menjanjikan segelas es teh bagi mereka yang mampu menjawab semua teka teki yang diberikan. Hadiah yang lebih dari cukup untuk kembali menyegarkan pikiran, sebelum metode berpikir yang logis kembali menyentuh pikiran mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar